Gue Ingin Ada di Forbes 30 Under 30

"Keren yah kalau bisa masuk Forbes 30 Under 30.."

Forbes 30 Under 30 adalah daftar 30 orang di bawah usia 30 tahun yang memberikan impact dalam beberapa kategori bisnis. Daftar ini dirilis oleh majalah bisnis Forbes setiap tahunnya sejak 2011[1] dan tersebar dalam beberapa region: Amerika (20 kategori), Asia (10) , Eropa (10), dan Afrika (1).

Tahun 2016 adalah tahun pertama gue melihat daftar Forbes 30 Under 30 Asia. Karena gue merupakan orang yang suka dengan teknologi, daftar yang berkaitan dengan teknologi sangat menarik perhatian gue. Ada beberapa orang Indonesia di daftar tersebut, seperti Kevin Aluwi (Go-Jek), Ferry Unardi (Traveloka), dan Abraham Ranardo (Mailbird). Mereka adalah anak muda Indonesia berusia di bawah 30 tahun saat itu dan sudah berkontribusi bagi dunia melalui karya mereka sendiri. Keren ya!

Gue pengen masuk dalam list Forbes 30 Under 30!


Keinginan kuat gue ini bahkan membuat gue mengambil langkah nekat: meninggalkan pekerjaan gue yang lumayan steady di salah satu startup fintech untuk mendirikan startup sendiri bersama orang yang baru saja gue kenal via Linkedin. Langkah yang nekad karena gue baru saja menikah dan kondisi keuangan gue dan istri saat itu belum stabil.

I took the risk. Gue membantu membuat landing page dan presentation selepas pulang dari pekerjaan utama gue sebagai frontend engineer di startup fintech. Investor pun tertarik dan startup rekrutmen berbasis teknologi yang gue buat bersama founder lain ini akhirnya mendapatkan pendanaan bootstrap. Pendanaan ini membuat gue lebih mantap dan mengundurkan diri dari pekerjaan utama gue.

Yay, now I am a founder! One step closer to be listed on Forbes 30 Under 30!

I gave it all, bahkan gue pernah ngoding sampai jam 5 pagi menjelang peluncuran MVP (Minimum Viable Product). Memegang role baru sebagai Chief Product Officer dan Founder memang menantang dan juga menguras energi.

In the end, it didn’t go well for me. Konflik demi konflik dengan founder lain membuat gue memutuskan meninggalkan startup yang gue bangun tersebut. Sampai sekarang, gue kadang masih menyesal mengiyakan ajakan tersebut.


Setelah dari sana, gue akuin gue sempat down. I didn’t know what to do. Gue bangun siang terus, apply kerja juga ga mood, gue mau bikin startup lagi pun nggak tahu mulai dari mana. I felt lost.

Celakanya, gue adalah tipe orang yang ketika down, maka cuma gue sendirilah yang bisa bikin up lagi. Kata-kata penyemangat dari artikel motivasi dan istri gue sendiri seringkali cuma numpang lewat doank.

Untungnya ada beberapa tawaran pekerjaan yang datang tanpa perlu gue lamar (setidaknya untuk membuat dapur ngebul kalau kata orang :p). Gue sempat membantu pembuatan MVP salah satu startup fintech. Setelah itu, gue juga menjadi bagian dari revamp salah satu e-commerce retail di Jakarta.

And here I am, beberapa bulan lagi gue akan berusia 30 tahun. Sudah bisa dipastikan gue tidak akan bisa masuk Forbes 30 Under 30.

Ada artikel yang bilang “Jangan membandingkan kesuksesanmu dengan kesuksesan orang lain”. Bahkan, Kolonel Sanders memulai KFC saat dia berusia lebih dari 60 tahun. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan agar menjadi late bloomer, kan?

Catatan Kaki:
[1] : Forbes 30 Under 30 Wikipedia