indonesia

Wow.. wow.. santai.. santai. Gue yakin cukup banyak di antara para pengunjung blog ini yang esmosi pas baca judul artikelnya. Easy! Gue juga orang Indonesia seperti kalian. Melalui postingan gue kali ini, gue akan mencoba membuka sedikit pikiran kalian-kalian yang mudah tersulut emosinya saat mendengar atau melihat kata “indon”.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kata “indon” memiliki arti negatif di Indonesia. Kata tersebut cenderung menjadi sebuah kata untuk menghina bangsa Indonesia. Kata “indon” sendiri dianggap mayoritas warga negara Indonesia sebagai kata untuk memanggil asisten rumah tangga (pembantu) dan buruh karena banyak tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Jujur gue baru tahu tentang kata “indon” ini saat sedang ramai-ramainya klaim Pulau Sipadan & Ligitan oleh pemerintah Malaysia. Saat itu banyak forum-forum internet mancanegara membahas isu ini. Netter Malaysia khususnya, menyebut Indonesia dengan kata Indon dan saat itulah peperangan terjadi.

Sejarah Kata “Indon”

Pencarian sejarah kata “indon” gue mulai dari Wikipedia. Istilah ini digunakan oleh rakyat dan pemerintah Malaysia untuk menyebut negara dan rakyat Indonesia. Walau, gue juga sempat melihat harian Australia menyebut Indonesia dengan Indon.

Indon in Yahoo Australia (Google search result)

Indon in Yahoo Australia (Google search result)

Penggunaan awal istilah ini adalah dalam The Encyclopedia Americana‎ oleh Bernard S. Cayne, Robert S Anderson, Sue R Brandt (1829). Sebagian media Indonesia ternyata malah pernah menggunakan istilah ini pada tahun 1963 sampai 1982.

Di Indonesia, penggunaan kata ini bermakna negatif yang setara dengan penggunaan kata negro / nigga untuk orang berkulit hitam. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia berkali-kali meminta pelarangan penggunaan kata tersebut namun tidak pernah digubris oleh pemerintah Malaysia. Hingga pada 13 Mei 2007, pemerintah Indonesia melayangkan protes resmi kepada pemerintah Malaysia. Pada 24 Mei 2007, Kementerian Penerangan Malaysia melarang penggunaan istilah tersebut.

Maggie Mie Malaysia sempat menggunakan kata Indon pada produk mie instan mereka. Uniknya, menurut hasil survey Nestle Malaysia, kata “indon” sangat populer serta merupakan sesuatu yang positif dan potensial bagi pemasaran kepada generasi muda berusia 15-24 tahun dan 25-29 tahun.

Pergeseran Makna “Indon”

Menurut gue, terjadi pergeseran makna pada kata “Indon”. Pergeseran tersebut merupakan peyorasi, yaitu makna barunya lebih rendah dibandingkan makna sebelumnya.

Seperti yang kita tahu, kata “Indonesia” merupakan kata yang memiliki lima suku kata: In-do-ne-si-a. Lima suku kata cukup panjang untuk diucapkan sehingga orang pun mencoba menyingkatnya agar dapat mengucapkannya dengan lebih mudah. Indonesia pun disebut dengan Indo ataupun Indon. Hal ini juga diterapkan ketika menyebut Malaysia dengan Malay ataupun Australia dengan Aussie.

Nah, masalah muncul karena banyaknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia. Gue membayangkannya sih para bos-bos di sana menyebut para pekerja di tempatnya dengan begini, “Hai, Indons! Kumpul sini!“. Lambat laun karena terbiasa memanggil para pekerja asal Indonesia dengan sebutan Indon, maka nada bicara orang Malaysia tersebut saat mengucapkan kata Indon jadi terkesan merendahkan.

So?

Saran gue, sebaiknya tak perlu gampang tersulut emosi saat melihat atau mendengar kata “indon”. Gue sih biasa balas dengan menyingkat asal negaranya. Contohnya, pas orang Malaysia manggil gue Indon, gue balas dengan Malay. Simple as that. 🙂