Love At First Sight

love-at-first-sightKali ini postingan gue akan membahas soal cinta. Uwaw.. Tak seperti biasanya. Mungkin tanda dajal sudah tiba?

Uhuk! Postingan gue akan membahas apa yang disebut orang dengan love at first sight. Cinta pada pandangan pertama. So swit sekali*pukul-pukul manja*.

Anyway, gue bukan orang yang percaya dengan love at first sight. For me, love needs time to grow. Gue lebih suka menyebut hal itu dengan crush. Bukan Candy Crush yang isinya mecah-mecahin permen dengan suara om-om yang bilang “delicious..” itu koq. Gue agak kesulitan menemukan terjemahan pasti soal crush ini ke bahasa Indonesia. Mungkin dalam bahasa gaulnya bisa berarti gebetan atau terpesona. Kalau salah monggo dikomen.


So, I had this crush about 2 years ago. Waktu itu gue bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Dengan lokasi rumah gue di daerah Tangerang, perjalanan menuju tempat kerja memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam. Alhasil, gue harus berangkat jam 6 kurang karena kantor gue saat itu mewajibkan karyawannya untuk masuk jam setengah 8. Setiap paginya, dengan wajah ngantuk, gue mengendarai si Milan, Honda Beat merah hitam, yang menemani gue sejak 2010.


Pagi itu, tak seperti biasanya gue agak telat. Gue baru berangkat sekitar jam 6 lewat. Dengan agak ngebut, gue memacu si Milan. Ketika melewati jalan di depan Taman Pabuaran, Cimone, gue melihat dia. Iya, orang yang membuat gue terpesona.

Dia wanita berumur sekitar 20-an awal. Kulitnya putih bersih. Rambutnya berwarna cokelat muda dengan sedikit gelombang di bagian bawah. Matanya cukup besar dengan pipi agak bulat dan merona. Kelihatannya dia menunggu seseorang sambil sekali-kali melihat jam di pergelangan tangannya. Kenapa gue bisa tahu begitu detil? Entahlah. Saat lewat di depannya, tanpa sadar, gue memperlambat laju si Milan sambil menengok ke arahnya.

umbrella

Selanjutnya tanpa disengaja, gue jadi berangkat jam 6 lewat setiap harinya. Pernah suatu hari saat hujan, gue melihat dia berlindung di bawah payung berwarna gelap. Pernah juga gue melihat dia dijemput mobil kijang berwarna biru tua. Pada akhirnya, gue hanya bisa melihat dia sambil tersenyum dari kejauhan.

Beberapa skenario terlintas di kepala gue. Misalnya menawarkan tumpangan agar dia bisa ke tempat tujuan lebih cepat. Tapi hal itu tidak pernah gue lakukan. Gue sadar gue lebih suka melihat dia dari jauh. Gue sadar itu cuma crush. Gue sadar kalau gue punya pacar. :p

“Ritual” ini gue lakukan cukup lama sampai akhirnya gue memutuskan untuk kost di daerah Jakarta. Iya, berkendara dengan jarak sekitar 60-an km pulang-pergi membuat badan gue sering drop. Akhirnya, sejak gue kost, gue nggak pernah melihat dia lagi. Ini ceritaku, mana ceritamu? :))