Pengalaman Mengurus Perpanjangan SIM Tanpa Calo

Belakangan gue sering berurusan ama polisi. Tapi tenang, tidak ada hubungannya dengan penculikkan anak di bawah umur. Setelah sempat ditilang dan dipulangkan saat mengurus SIM di mobil SIM keliling, kali ini gue mencoba peruntungan dengan mengurus perpanjangan SIM tanpa calo. Yup, tanpa calo! Warbiyasak!

Perjalanan dimulai pagi itu saat gue menuju Tiga Raksa. Dengan naik si Milan, BeAT merah hitam kesayangan, gue berangkat ke Polres Kabupaten Tangerang. Ternyata oh ternyata, letaknya jauh sekali ke dalam dari gerbang Tiga Raksa. Mungkin tempat jin buang anak.

Terakhir gue ke Polres Kabupaten Tangerang tuh naik angkot 5 tahun lalu jadi sudah agak-agak lupa lokasinya. Setelah bertanya-tanya lucu, ternyata lokasinya ada di dekat kantor pos. Ketika sampai di lokasi, sudah tampak orang-orang yang “berbaik hati” menawarkan jasa.

“Mas, mau bikin SIM?”
“Mas, mau dibantu?”
“Mas… mas.. mas..”

Dengan senyum tampan sambil mengibaskan tangan, gue berjalan menuju loket.

Sesampainya di loket, gue langsung bertanya kepada petugas yang sedang asik membaca koran di sana.

Pagi, pak. Saya ingin mengurus perpanjangan SIM.” ujar gue.
Pagi, pak. Silakan bapak ke sebelah untuk test kesehatan. Lalu bapak kembali ke sini untuk pembayaran asuransi. Setelah itu silakan bapak ke loket 8 untuk mengisi formulir.” jawabnya dengan ramah.

Wah, lumayan simple juga – pikir gue dalam hati. Gue lalu berlalu menuju ruang sebelah untuk tes kesehatan. Di ruangan ini sudah ada seorang wanita berkerudung yang duduk di balik meja.

“Pagi, bu. Saya ingin tes kesehatan.” kata gue.
Dengan wajah masam seperti baru diputusin pacar, dia berkata “Silakan bayar 20 ribu pak di sini.”

Tes nya seperti ini. Tau nda angkanya berapa? :/

Tes nya seperti ini. Tau nda angkanya berapa? :/

Gue pun mengeluarkan uang 20 ribu dari dompet gue. Tes kesehatan di sini agak absurd. Iya, absurd. Gue hanya disuruh menyebutkan angka yang tersamarkan dalam warna yang biasa digunakan untuk color blind test. Setelah menjawab sekitar 10 angka, tes pun selesai. Dia menuliskan nama gue dan keterangan lainnya di selembar kertas dan menyerahkannya ke gue. Gue pun membawanya ke loket tempat pertama kali gue datang.

Setelah kembali ke loket tersebut, gue membayar uang sejumlah Rp 30.000,00 untuk asuransi selama 5 tahun. Karena gue melakukan perpanjangan SIM C, jika seandainya amit-amit gue kenapa-kenapa di jalan, keluarga gue akan mendapatkan uang sejumlah dua juta rupiah. Pembayaran asuransi ini disertai dengan kwitansi yang tertulis dengan jumlah yang sama. Menurut gue, inilah satu-satunya pembayaran gue yang dengan tarif resmi. 🙁

Setelah itu, gue melampirkan surat keterangan dari “dokter” di mana gue tes kesehatan dan bukti pembayaran asuransi ke loket 8. Di sana gue diharuskan membayar Rp 125.000,00 oleh seorang ibu yang mukanya masam seolah baru melihat timeline mantannya yang udah punya pacar baru. Gue pun mendapatkan formulir berwarna biru untuk gue isi dan diserahkan ke loket di sebelahnya.

Setelah menyerahkan formulir, gue pun menunggu dan duduk dengan manis untuk dipanggil foto. Di ruang tunggu ini, gue menemukan karikatur menarik yang tergambar di dinding. Gambarnya lucu dan cukup untuk menemani gue menunggu giliran foto. Setelah difoto dengan tampan dan elegan, gue menunggu lagi di ruangan sebelah. Tak berapa lama nama gue dipanggil dan gue mendapatkan SIM gue yang baru.

IMG_20150824_100841

Karikatur Lucu

Total Biaya Perpanjangan SIM C

Mengurus perpanjangan SIM terasa mudah dan tidak bertele-tele. Ditambah lagi kondisi Polres saat itu tidak terlalu ramai sehingga dalam waktu kurang dari 1 jam, SIM baru gue sudah jadi.

Total biaya yang harus gue keluarkan adalah Rp 178.000,00. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. Tes Kesehatan : Rp 20.000,00
  2. Asuransi untuk 5 tahun : Rp 30.000,00
  3. Biaya Perpanjangan SIM C : Rp 125.000,00
  4. Aqua dingin : Rp 3.000,00 (Haus bro.. :p)

Biaya perpanjangan SIM C seharusnya adalah Rp 75.000,00. Hal tersebut terlihat saat gue melihat stempel “LUNAS – RP 75.000,00” pada formulir gue. Kenapa jadi Rp 125.000? Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu. 🙁

Tarif Resmi Pengurusan SIM, STNK, dan Plat Motor

Sekedar tambahan, menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 50 Tahun 2010 seperti yang disadur dari halaman fanpage resmi divisi humas POLRI, tarif resminya adalah sebagai berikut:

I PENERBITAN SIM
A. Penerbitan SIM A
1. Baru Per Penerbitan Rp 120.000
2. Perpanjangan Per Penerbitan Rp 80.000
B. Penerbitan SIM B
1. Baru Per Penerbitan Rp 120.000
2. Perpanjangan Per Penerbitan Rp 80.000
C. Penerbitan SIM B II
1. Baru Per Penerbitan Rp 120.000
2. Perpanjangan Per Penerbitan Rp 80.000
D. Penerbitan SIM C
1. Baru Per Penerbitan Rp 100.000
2. Perpanjangan Per Penerbitan Rp 75.000
E. Penerbitan SIM D (khusus penyandang cacat)
1. Baru Per Penerbitan Rp 50.000
2. Perpanjangan Per Penerbitan Rp 30.000
F. Pembuatan SIM Internasional
1. Baru Per Penerbitan Rp 250.000
2. Perpanjangan Per Penerbitan Rp 225.000

II Pelayanan ujian keterampilan mengemudi melalui simulator
Per Ujian Rp 50.000

III Penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK)
A. Kendaraan bermotor roda 2, roda 3, atau angkutan umum Per Penerbitan Rp 50.000
B. Kendaraan bermotor roda 4 atau lebih Per Penerbitan Rp 75.000
C. Pengesahan Surat Tana Nomor Kendaraan (STNK) per pengesahan/Tahun Rp 0

IV Penerbitan Surat Tanda Coba Kendaraan (STCK)
Per penerbitan/kendaraan Rp 25.000

V Penerbitan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB)
A. Kendaraan bermotor roda 2 atau roda 3 per Pasang Rp 30.000
B. Kendaraan bermotor roda 4 atau lebih Per Pasang Rp 50.000

VI. Penerbitan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB)
A. Kendaraan bermotor roda 2 atau roda 3
1. Baru Per Penerbitan Rp 80.000
2. Ganti Kepemilikan Per Penerbitan Rp 80.000
B. Kendaraan Bermotor roda 4 atau lebih
1. Baru Per Penerbitan Rp 100.000
2. Ganti Kepemilikan Per Penerbitan Rp 100.000

VII Penerbitan Surat Mutasi Kendaraan ke luar daerah
Per Penerbitan Rp 75.000