Pengalaman Mengurus Surat Tilang Biru

Gue yakin, banyak di antara kalian pernah membaca artikel mengenai lebih baik meminta surat tilang biru saat ditilang polisi. Artikel itu menyebar luas di sosial media dan mengajak masyarakat untuk menolak damai di tempat dan meminta surat tilang biru. Melalui artikel yang gue tulis ini, gue akan ajak kalian untuk re-think again about that. Here’s why..

Ditilang Pak Polisi

tilangMinggu pagi itu, 29 Maret 2015, gue dalam perjalanan dari rumah ke kost. Rumah gue di Cikupa dan kost gue di daerah Kembangan, Jakarta Barat. Lagi asik-asik berkendara, tiba-tiba gue diberhentiin ama seorang polisi di sekitar jembatan Sungai Cisadane. Polisi berkulit gelap, agak gemuk, dengan potongan rambut pendek ini mengulurkan tangannya sambil berkata, “Selamat siang, mas. Itu lampunya tidak nyala.”

Gue mengernyitkan dahi, seingat gue selalu nyala. Soalnya gue selalu pastiin lampu motor gue menyala saat melewati jembatan itu. Bukannya kenapa, soalnya gue tahu di sana ada pos polisi.

Gue lalu memberhentikan si Milan, motor Honda BeAT merah hitam gue. Gue memajukan badan gue, mengulurkan telapak tangan ke arah lampu motor, dan.. well.. memang mati. Padahal, posisi saklar dalam keadaan nyala. Gue mengeluarkan SIM dan STNK gue. Dengan wajah malas gue turun dari motor dan mengikuti bapak polisi itu masuk ke pos polisi.

“Mau diselesaikan di sini apa di pengadilan?” tanya pak polisi itu sambil senyum.

Gue teringat artikel yang gue baca soal surat tilang biru. Di sana tertulis denda maksimal tilang hanya sekitar 50rb. Berbekal informasi tersebut, gue menjawab dengan lantang “Minta surat biru aja, pak.”

“Oh.. biru. Boleh.” ujarnya sambil menulis surat tilang. Senyumnya pun menghilang.

Sementara dia menulis surat tilang, gue berjalan menuju motor gue. Gue masih nggak bisa terima kalau lampu gue mati. Gue menyalakan motor gue dan.. voila.. lampunya nyala. Heran donk gue. (Belakangan gue baru sadar kalau saklar lampu gue agak longgar. Nggak berapa lama setelah ditilang, gue pun ke bengkel buat memperbaikinya.)

“Pak.. itu lampunya nyala..” kata gue kepadanya.

“Iya, tapi tadi kan mati.” jawabnya cuek sambil tetap menulis surat tilang.

“Lah…” ucap gue singkat.

“Kenapa? Melawan petugas?” nada bicaranya meninggi sambil menatap gue tajam.

Gue menatap dia dingin. Welp. Inikah yang mengayomi dan melayani masyarakat?

Pak polisi memberikan gue lembar tilang warna biru dengan nominal denda Rp 100.000,00 yang dilingkari, “Jadi, kamu hari senin bayar tilang di Bank BRI. Hari selasa ke Polres buat ambil SIM kamu.” katanya.

“Kenapa nggak sekarang aja ke Bank-nya pak?” tanya gue.

“Sekarang kan minggu, mana ada bank yang buka?” tanya dia balik.

Gue juga tahu kale, ujar gue dalam hati. “Yah, kan ada ATM. Memang tidak bisa bayar lewat ATM?” tanya gue lagi.

“Oh, kalau itu belum ada kerjasama.” jawabnya singkat sambil pergi untuk mengurus “mangsa” dia yang lain.

Gue lalu duduk di motor gue sambil memperhatikan dengan seksama. Di sana tertulis gue mengikuti sidang tanggal 10 April 2015, hari Jumat. Kenapa gue disuruh datang ke Polres hari Selasa? Gue mulai su’udzon, jangan-jangan nanti selasa gue disuruh datang, trus doi bilang kalau SIM belum selesai diurus. Tapi bisa aja selesai dengan gue membayar nominal tertentu. Dan herannya lagi, gue kan minta surat biru. Kenapa gue masih ditulis harus mengikuti sidang? Ah, persetan lah. Gue akan tetap datang tanggal 10 April 2015 sesuai yang dia tulis.

Bayar Denda di BRI

Esoknya, hari Senin tanggal 30 Maret 2015, gue mengurus pembayaran ke Bank BRI terdekat. Perlu diketahui bahwa tidak semua cabang BRI bisa menerima pembayaran tilang. Kantor cabang dengan tipe KCP (Kantor Cabang Pembantu) tidak menerima pembayaran tersebut. Untuk detilnya dapat dilihat di link berikut.

Ketika sampai, gue disambut security di Bank BRI tersebut.

“Ada keperluan apa, Pak?” tanyanya dengan ramah.

“Oh, saya ingin membayar tilang, Pak.” jawab gue.

“Boleh lihat surat tilangnya, pak?” tanyanya. Gue mengeluarkan surat tilang berwarna biru tersebut. “Sebelumnya, maaf pak, Bapak yakin ingin membayar denda senilai ini?” tanyanya lagi.

“Iya, pak.” jawab gue singkat. Mungkin ada banyak orang yang shock dengan denda maksimal tersebut yah.

Bapak security tersebut lalu masuk ke kantor bank bersama surat tilang dan stnk gue untuk verifikasi. Beliau lalu menghampiri gue sambil bertanya, “Kenapa pak ditilangnya?”

“Gara-gara lampu nggak nyala pas siang.” jawab gue lagi.

“Kenapa nggak damai aja pak. He he he.” tanyanya lagi sambil senyam senyum.

“Males aja liat muka dia lama-lama.” jawab gue sambil nyengir kecut.

Tidak berapa lama, nama gue dipanggil teller. Gue lalu memberikan uang Rp 100.000,00 untuk pembayaran tilang. Setelah itu gue menerima bukti pembayaran tilang berwarna kuning dari bank BRI. Gue menyimpannya dengan rapi untuk pengambilan SIM gue tanggal 10 April 2015 nanti.

Pengambilan SIM

Setelah terlebih dahulu meminta ijin ke atasan gue, tanggal 10 April 2015 pagi gue memacu si Milan ke Polres Metro Tangerang. Ketika sampai, gue langsung di-kepoin sama para polisi yang berjaga di gerbang masuk.

“Hei, mau apa pak?” tanyanya seperti preman pasar.

“Mau ambil SIM” jawab gue lantang.

“Oh, tilang yah? Masuk.. Masuk.” kata salah satu dari mereka.

Gue memarkir motor gue di bagian belakang. Di sini sudah banyak calo pembuatan SIM dan sidang tilang berkeliaran menawarkan jasa mereka. Gue tidak mempedulikan ajakkan mereka dan berjalan menuju tempat pengambilan SIM. Setelah bertanya pada front desk yang dihuni oleh polwan yang cukup lucu, gue berjalan menuju loket 10 untuk mengambil SIM gue.

“Siang, pak. Mau ambil SIM dari surat tilang biru.” kata gue.

“Boleh lihat surat tilang dan bukti bayarnya?” tanya salah seorang petugas tidak berseragam di loket 10.

Gue menyerahkan surat tilang dan bukti bayar. Doi lalu mulai grasa grusu mencari SIM gue. Setelah sekitar 5 menit, doi menemukan SIM gue. Doi lalu menyerahkan SIM gue dan berkata, “Yak, sudah selesai.”

“Oke. Makasih, pak.” kata gue sambil berjalan keluar dari loket 10. Tidak ada kembalian seperti yang gue baca di artikel sebelumnya. Gue membayar denda maksimal Rp 100.000,00. That’s it.

Kesimpulan

Sebenarnya, alur tilang itu cukup mudah dan bisa dipahami melalu gambar berikut:

Alur Tilang

Alur Tilang

Di sini, gue sangat amat tidak menyarankan untuk damai di tempat karena hal tersebut malah membuat mental para pegayom masyarakat ini semakin hancur. Intinya ada 2 macam surat tilang yang bisa kita ambil:

  1. Surat Tilang Biru
    Kita menerima bahwa kita melanggar peraturan lalu lintas. Kita akan membayar uang titipan denda melalui bank yang ditunjuk (BRI). Besar denda yang dibayarkan adalah maksimum yang berbeda tergantung pelanggarannya.
  2. Surat Tilang Merah
    Kita menolak bahwa kita melanggar peraturan lalu lintas. Kita bisa menngikuti sidang yang biasanya nominalnya lebih kecil daripada besar denda maksimal.

Jika kalian memiliki uang lebih dan tidak ingin repot mengikuti sidang, silakan pilih slip biru. Gue udah membuktikannya. Tinggal bayar, datang, ambil, selesai. Hal ini membuat gue agak menyesal belakangan (Perih kk Rp 100.000,00 pas tanggal tua begitu).

Jika kalian memilih untuk mengikuti sidang, nominal denda kemungkinan bisa lebih murah. Setidaknya itu yang saya lihat dari pengalaman para kaskuser di sini. Sekedar gambaran, berikut beberapa pelanggaran dan denda maksimumnya sesuai dengan UU 22/2009.

denda tilang

UU 22/2009

Jadi, pilih mana? Surat tilang biru atau merah? 🙂